Pemerintah Harus Perketat Pengawasan Hutan Cegah Bencana Alam

Pewarta: Terbit pada: 7 Mei 2021

Foto : Kawasan hutan lindung di kawasan Bukit Barisan perbatasan Pagaralam-Lahat dan Muara Enim, yang sudah banyak gundul dan beralih fungsi menjadi kebun kopi. (Foto/HB/dok.2021) 

PAGARALAM HB – Pengawasan keberadaan hutan menjadi salah faktor utama untuk mencegah munculnya bencana alam seperti, longsor, banjir bandang dan kekeringan. Peningkatan curah hujan dan pengurangan jumlah hutan di wilayah Kota Pagaralam, seperti di kawasan hutan lindung Gunung Dempo, Bukit Jambul, Rimba Candi dan sejumlah daerah lainnya menjadikan ancama bagi lingkungan sepanjang alur sungai pada saat datang musim hujan.

Penelusuran harianbesemah.com, sedikitnya seuluh titik terjadi bencana alam akibat Kota Pagaralam di guyur hujan deras lebih dari tiga jam, seperti jembatan amblas, irigasi roboh, dan rumah terendam air.
“Kami sudah setiap hari Terjun ke lapangan untuk memantau keberadaan huta lindung yang banyak alih fungsi jagi ladang, ditambah lagi adanya program pemetintah pusat membuat hutan kemasyarakatan (HKM), sehingga banyak muncul kondisi hutan lindung sudah dijadikan lahan kebun kopi,” kata Kepala KPH Kota Pagaralam, Heri Mulyono,.
Menurut dia, cukup banyak faktor yang mempengaruhi kerusakan hutan salah satunya alih fungsi dan perambahan apalagi letaknya berbatasan dengan kebun warga, mudah melebar.
Kita tahu bahwa pohon memiliki peranan yang penting dalam siklus air, yaitu menyerap curah hujan serta menghasilkan uap air yang nantinya akan dilepaskan ke atmosfer. Dengan kata lain, semakin sedikit jumlah pohon yang ada di bumi, maka itu berarti kandungan air di udara yang nantinya akan dikembalikan ke tanah dalam bentuk hujan juga sedikit,” kata dia.
Nantinya, hal tersebut dapat menyebabkan tanah menjadi kering sehingga sulit bagi tanaman untuk hidup. Selain itu, pohon juga berperan dalam mengurangi tingkat polusi air, yaitu dengan menhentikan pencemaran. Dengan semakin berkurangnya jumlah pohon-pohon yang ada di hutan akibat kegiatan deforestasi, maka hutan tidak bisa lagi menjalankan fungsinya dalam menjaga tata letak air.
“Sehingga muncul air datang berlebihan saat hujan deras yang terjadi banjir bandang dan longsor,” ungkap dia. (01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × 3 =