The Innovator’s Dilemma : Jebakan Inovasi yang Membuat Sebuah Bisnis Terpelanting Mati

Pewarta: Terbit pada: 20 April 2016

\r\n\r\nThe Innovator’s Dilemma sejatinya adalah sebuah judul buku legendaris yang ditulis oleh Prof Clayton Christensen, guru besar ilmu Strategi dari Harvard Business School.\r\n\r\nInnovator dilemma adalah saat sebuah bisnis gamang melakukan inovasi, sebab takut inovasinya ini justru akan meng-kanibal produk utama yang menjadi andalannya.\r\n\r\nBanyak bisnis yang terlalu mencintai produknya secara berlebihan dan arogan. Rasa cinta yang berlebihan ini acap membuat mereka terpelanting dalam bibir kematian.\r\n\r\nToo much love will kill you. \r\n\r\nInnovator dilemma adalah saat market leader gamang, ragu atau enggan melakukan inovasi radikal. Kegamangan ini bisa dipicu oleh rasa cinta dan rasa percaya diri yang berlebihan. Atau juga bisa dipicu oleh ketakutan bahwa inovasi ini kelak justru akan mengkanibal produk mereka sendiri.\r\n\r\nNokia dulu menyebut Android sebagai semut kecil merah yang mudah digencet dan mati.\r\n\r\nArogansi dan rasa percaya diri yang berlebihan membuat Nokia terjebak dalam innovator dilemma. Sejarah mencatat, yang kemudian mati justru Nokia – tergeletak kaku dalam kesunyian yang perih.\r\n\r\nKodak menyebut kamera digital hanyalah tren sesaat, dan kamera produksi mereka akan terus bertahan. Kodak terjebak halusinasi dan innovator dilemma yang akut. Akibatnya, ruangan ICU yang pengap menanti raga mereka yang merintih kesakitan.\r\n\r\nIntel dan Micorosoft (dominasi yang dulu dikenal dengan duo Wintel) terlalu menikmati kekuasannya dalam dunia PC dan Laptop, dan pelan-pelan terjebak innovator dilemma. Mereka terbuai dengan kekuasaannya, dan lengah betapa dramatis kecepatan kemajuan era mobile computing.\r\n\r\nKini era PC/Laptop sudah hampir berakhir, diganti era mobile smartphone. Dan hegemoni Microsoft serta Intel kian menjadi tidak relevan dalam era smartphone.\r\n\r\nIntel dan Microsoft lalu hanya duduk saling bertatapan mata, diam dan termangu. Dalam rasa penyesalan yang pedih dan pahit. Namun dalam bisnis, penyesalan tidak pernah mendapat tempat terhormat.\r\n\r\nAda dua fenomena yang layak di-stabilo berkaitan dengan narasi tentang INNOVATOR DILEMMA ini.\r\n\r\nInnovator Dilemma # 1 : Too Much Love Will Kill You.\r\n\r\nSyair lagu indah itu terasa begitu benar dalam jagat bisnis. Terlalu bangga dan mencintai produkmu sendiri secara berlebihan, bisa membuatmu lengah dan lalu pelan-pelan terpelanting mati.\r\n\r\nBoleh saja Anda bangga dan mencintai keunikan produk perusahaan dimana Anda bekerja. Bangga dengan originalitas dan kreativitas produk yang dihasilkan.\r\n\r\nNamun kreativitas kita hari ini, akan dengan mudah digilas oleh kreativitas mereka hari esok.\r\n\r\nEither innovate or die. Pizza hut terus menerus mengenalkan menu baru setiap enam bulan. Sabun Lifebouy berkali-kali melakukan rejuvenasi. Facebook dan Bukalapak juga selalu melakukan evolusi. Dan kondom cap Durex kini juga ada yang rasa Jeruk dan Lemon.\r\n\r\nPertanyaannya adalah : apakah produk yang dihasilkan oleh perusahaan dimana Anda bekerja, tetap relevan dan unik? Proses inovasi apa yang layak dijalankan? Atau jangan-jangan manajemen perusahaan Anda juga pelan-pelan sudah terjebak dalam rabun inovasi?\r\n\r\nInnovator Dilemma # 2 : Serangan Muncul dari Arah yang Tak Terduga.\r\n\r\nDisruptive innovation ternyata acap datang bukan dari rival sesama industri. Namun dari new player yang entah darimana tiba-tiba mendadak muncul.\r\n\r\nNokia kolaps dihantam iPhone di tahun 2007, padahal produsen iPhone bukan perusahaan telco, namun dari industri komputer.\r\n\r\nKoran dan majalah mati bukan karena sesama rivalnya, namun karena Facebook dan Social Media (remaja dan anak muda tak lagi kenal koran/majalah kertas. Mereka lebih asyik main Path, IG atau FB. Pelan tapi pasti industri koran dan majalah akan mati).\r\n\r\nTelevisi seperti RCTI, Trans dan SCTV kelak akan kolaps bukan karena persaingan sesama pemain di industri yang sama, tapi dari makhluk alien bernama Youtube.\r\n\r\nDi Amerika, jumlah pemirsa televisi dikalangan anak muda dan remaja, menurun drastis. Dan semua lari ke Youtube. Ini juga kelak akan terjadi di tanah air.\r\n\r\nIndustri taksi seperti Bluebird goyah bukan karena pesaing sesama taksi, namun dari layanan taksi independen berbasis aplikasi. DI banyak negara, banyak perusahaan taksi konvensional mati digilas Uber dan layanan taksi berbasis aplikasi.\r\n\r\nDan kini produsen Toyota, BMW dan Mercedes Benz takut bukan karena persaingan sesama mereka. Namun karena kehadiran TESLA, yang entah dari mana tiba-tiba melakukan inovasi radikal dengan produk mobil berbasis elektrik.\r\n\r\n(Minggu lalu, mobil seri Tesla3 terjual hingga 300 ribu hanya dalam dua hari, padahal unitnya baru dirilis 2018. Jadi inden-nya dua tahun.)\r\n\r\nPelajarannya : musuh yang menakutkan ternyata bisa datang dari arah yang sama sekali tak terduga. Mereka datang dari industri lain, lalu tiba-tiba merangsek masuk dan membuat pelaku lama goyah dan acap terbengong-bengong.\r\n\r\nPada akhirnya, laju bisnis tetap akan terus berjalan. Sebagian mampu melakukan constant innovation dengan cemerlang. Sebagian lain terjebak dalam innovator dilemma yang membuat mereka rabun.\r\n\r\nSebagian terus menari dan berdansa dengan beragam produk yang inovatif. Sebagian yang lain, tergeletak mati dalam taman kuburan yang sunyi. Dalam senyap dan keheningan.\r\n\r\n- See more at: http://strategimanajemen.net/2016/04/11/innovator-dilemma-jebakan-inovasi-yang-membuat-sebuah-bisnis-terpelanting-mati/#sthash.335HQT2n.dpuf

BNN Pagar alam Sumsel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 − 9 =